
Setan yang terkutuk adalah musuh bapak kita, Adam ‘alaihissalam.
Musuh bebuyutan ini telah berjanji pada dirinya untuk berusaha
menggelincirkan anak Adam dan memalingkan manusia dari kebenaran menuju
kejelekan, dari petunjuk keada kesesatan.
Allah berfirman:
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
“Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan
mereka semuanya. kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka” (QS. Shad: 82-83).
Musuh terkutuk ini telah berjanji untuk selalu menghalangi kita dari
setiap kebenaran dan kebaikan dan memalingkan kita darinya. Allah
berfirman:
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ
“Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat,
saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang
lurus” (QS. Al A’raf: 16).
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memberitahukan kepada
kita bahwa setan yang terkutuk ini telah duduk di setiap pintu kebaikan
untuk memalingkan manusia darinya dan menghalang-halanginya. Dari
Sabrah bin Abi Al Fakah, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
إنَّ الشَّيطانَ قعد لابنِ آدمَ بطرقِه , قعد له بطريقِ
الإسلامِ , فقال : أتسلِمُ وتذرُ دينَك ودينَ آبائِك ؟ . قال : فعصاه وأسلم
. قال : وقعد له بطريقِ الهجرةِ , فقال : أتهاجرُ وتدعُ أرضَك وسماءَك ,
وإنَّما مثلُ المهاجرِ كالفرسِ في الطِّوَلِ ؟ فعصاه وهاجر , ثمَّ قعد له
بطريقِ الجهادِ , وهو جهادُ النَّفسِ والمالِ , فقال : تقاتلُ فتُقتلُ ,
فتُنكحُ المرأةُ ويُقسَّمُ المالُ ؟ . قال : فعصاه , فجاهد . قال رسولُ
اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : فمن فعل ذلك منهم فمات , كان حقًّا على
اللهِ أن يدخلَه الجنَّةَ
“Sesungguhnya setan selalu duduk (menggoda) di semua jalan
kebaikan anak Adam. Ia duduk di jalan Islam sambil berkata: “Mengapa
kamu masuk Islam dan meninggalkan agamamu, agama bapak dan nenek
moyangmu?”. Lalu hamba itu tidak menghiraukannya dan ia tetap masuk
Islam. Kemudian setan duduk di jalan hijrah sambil berkata: “Mengapa
kamu hijrah dan meninggalkan tempat tinggal dan hartamu?”. Hamba itu
tidak mempedulikannya, dan ia pun tetap hijrah. Kemudian setan duduk di
jalan jihad, yaitu jihad jiwa-raga serta harta, setan lalu berkata:
“(kalau kamu jihad) kamu itu saling membunuh dan kamu akan terbunuh,
istri kamu akan dinikahi orang lain dan harta kamu akan dibagi-bagi”.
Hamba tadi tidak memperdulikannya, ia pun tetap berjihad. Rasulullah
shallallahu’alaihi wasallam bersabda lalu: “Barangsiapa yang melakukan
hal demikian, lalu mati, maka hak atas Allah untuk memasukkannya ke
dalam surga” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya dan An Nasa’i. Dishahihkan Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1652)
Dengan demikian, peperangan antara seorang mukmin dengan setan adalah
peperangan sengit yang terus berlanjut. Tidak akan selesai hingga ruh
keluar dari jasad. Bahkan semakin bertambah ketaatan, katakutan dan
ketaqwaan seorang hamba kepada Allah, kesungguhannya untuk taat dan
mencari keridhaan Allah, maka semakin bertambah sengit pula
permusuhannya dengan setan.
Ketika seorang mukmin sabar dalam memerangi setan, melawan tipu daya
dan was-wasnya, maka Allah akan menurunkan bantuannya kepada hamba-Nya
yang jujur, yang bisa bersabar dan berjiha melawan musuh bebuyutannya
ini.
Dengan demikian, kemenangan dalam peperangan ini adalah milik orang
yang bertaqwa kepada Allah, yang berjihad melawan setan dan hawa
nafsunya serta menundukkan jiwanya demi keridhaan Allah. Allah
berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami,
benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan
sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al Ankabut: 69).
Termasuk medan yang penting dalam pertempuran melawan setan adalah
medan belajar ilmu syar’i. Setan berusaha dengan semua kekuatannya untuk
memalingkan seseorang dari belajar ilmu syar’i yang bermanfaat, agar
orang tersebut tetap dalam kebodohan dan terjerat hawa nafsunya. Karena
ilmu syar’i yang bermanfaat bagaikan cahaya dan obat. Iblis berusaha
memadamkan cahaya itu agar manusia tetap dalam kegelapan, bisa
dipermainkan sekehendaknya setan, serta dijerumuskan ke dalam kejelekan
dan kehancuran.
Apabila hal ini telah kalian sadari, wahai saudaraku tercinta dan
saudariku yang mulia, maka ketahuilah bahwa iblis memiliki tipu daya dan
lorong-lorong masuk untuk menyerang hati, dan menjadikannya malas
belajar ilmu syar’i. Iblis akan melemahkan semangat kita, memalingkan
kita dari belajar sehingga menyibukkan diri kita dengan kegiatan yang
sepele dari tujuan yang mulia. Diantara tipu dayanya yang paling jelas
adalah sebagai berikut:
1. Taswif (berangan-angan akan melakukan pekerjaan dan menundanya)
Setiap kali seseorang ingin belajar ilmu syar’i, membaca dan memahami
agamanya, maka setan datang memberikan was-was. Setan berkata: “Tunda dulu sampai besok! Sekarang ini kurang cocok untuk belajar“.
Setan terus-menerus memperdayakannya dengan angan-angan yang dusta, dan
janji-janji madu dari hati ke hati. Hati berlalu dengan sia-sia. Masa
muda yang penuh semangat berlalu begitu saja, hingga tiba masa tua
renta. Bagaimana bisa belajar ilmu setelah menjadi tua?
2. Memberikan anggapan bahwa masih banyak kesempatan di waktu yang akan datang
Setan memberikan angan-angan bahwa kita akan bisa fokus belajar di
waktu yang akan datang, setelah nikah, setelah selesai kuliah, setelah
dapat kerja, dan lainnya. Adapun sekarang tidak perlu terlalu
memperhatikan belajar agama, karena keadaan tidak mengizinkan. Dia akan
mendapatkan ilmu yang dia tinggalkan, pada waktu yang akan datang.
Demikianla seterusnya, detik-demi-detik dihabiskan dalam kelalaian dan
permainan. Teman kita ini menunggu masa depannya, tanpa memikirkan
keadaan yang sebenarnya. Apabila ia sudah menikah, atau selesai kuliah
atau kerja, tentunya akan bertambah kesibukan dan aktifitasnya. Sehingga
ia tidak akan memiliki waktu yang cukup untuk membaca dan belajar. Saat
itu dia akan merasa rugi dengan masa mudanya yang sia-sia tanpa
menghasilkan ilmu. Tetapi sesal kemudian tidak akan pernah berguna.
3. Zuhud (merasa cukup) dari belajar agama
Setan senantiasa membuat orang merasa zuhud (cukup) untuk belajar
ilmu syar’i. Ia beranggapan bahwa ilmu syar’i tidak akan bisa mengubah
keadaan sekarang yang pahit dan menyakitkan ini. Maka tidak ada gunanya
belajar ilmu syar’i. Karena ilmu syar’i hanya dimaksudkan untuk
memperbaiki keadaan orang dan realitas kehidupannya. Obat dari bisikan
setan yang jahat ini adalah dengan menelaah kisah-kisah para pejuan dan
pembaharu terdahulu. Anda akan dapatkan bahwa mereka tidak akan mampu
mengadakan peruubahan dan perbaikan terhadap penyimpangan mereka dari
petunjuk Allah kecuali dengan ilmu syar’i.
Misalnya, sejarah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikhul Islam
Muhammad bin Abdil Wahhab. Anda akan dapati bahwa senjata yang mereka
pergunakan dalam melakukan perbaikan adalah senjata argumentasi, ilmu
dan dakwah. Kita juga mengatakan bahwa kalimat yang benar, nasehat yang
baik, kitab-kitab Islam yang bermanfaat dan khutbah yang jelas, semua
itu adalah senjata-senjata yang sangat berpengaruh. Semua ini berpijak
di atas ilmu syar’i.
4. Anggapan bahwa orang tidak membutuhkan ilmunya
Setan memberikan persepsi bahwa orang yang belajar sudah banyak.
Dengan demikian, sudah tidak dibutuhkan lagi untuk belajar. Orang tidak
akan ada yang memanfaatkan ilmunya. Maka tidak perlu lagi belajar ilmu
syar’i. Cara menanggulangi bisikan setan ini adalah sebagai berikut:
- Hendaklah setiap orang mengetahui bahwa para ulama dan pelajar yang ada sekarang ini pasti akan meninggal dan habis. Siapa yang akan mengajarkan manusia tentang agamanya kalau bukan anda wahai para pemuda Islam. Oleh karena itu, jangan sampai anda terpedaya dan terlena dari tugas anda
- Hendaklah setiap orang ingat, bahwa sekalipun banyak ulama dan pelajar, nanun yang betul-betul menguasai ilmu syar’i sangatlah sedikit. Selama orang-orang yang betul-betul mumpuni dalam ilmu syar’i itu sedikit, maka kenapa anda wahai pemuda Islam, tidak giat belajar ilmu syar’i dan giat meraihnya? Barangkali andalah orang yang menjadi orang mumpuni dan paling berhasil dalam meraihnya
- Hendaklah ia ingat bahwa sekalipun banyak sarjana alumni fakultas agama Islam yang lulus setiap tahunnya di seluruh dunia Islam. Namun umat masih membutuhkan jumlah yang berlipat ganda dari itu untuk mengajarkan agama. Karena kebodohan telah tersebar di tengah umat yang jumlahnya mencapai jutaan orang
5. Anggapan seseorang bahwa ia tidak mampu belajar agama
Setan menanamkan perasaan kepada seseorang, terlebih lagi yang baru
bertaubat, bahwa dirinya tidak bisa belajar ilmu dan mendapatkannya.
Karena ia terbiasa dengan kelalaian, lupa dan kemalasannya belum
bertaubat. Hatinya dipenuhi dengan kefasikan dan kemaksiatan, sehingga
ia sekarang tidak bisa terlepas dari masa lalunya. Dia sulit belajar
ilmu syar’i dan sukar untuk bersungguh-sungguh mendapatkannya. Obat dari
tipu daya setan ini terangkum dalam beberapa hal berikut ini:
- Hendaklah seseorang menyadari bahwa kebiasaan jelek yang dilakukan di suatu masa, bisa diuabh dan diganti menjadi kebiasaan yang terpuji lewat kesungguhan, pembiasaan dan pengulangan.
- Hendaknya memperhatikan orang-orang yang belajar di sekelilingnya. Pada awalnya mereka hidup menyimpang dan tersesat dari petunjuk, kemudian Allah memberi mereka hidayah dan istiqamah. Mereka segera belajar ilmu dan meraihnya hingga menjadi orang-orang yang unggul. Kenapa dia tidak bisa menjadi seperti mereka?
6. Anggapan bahwa ia tidak mampu menghafal ilmu atau mengingatnya
Setan mengelabui seseorang dengan anggapan bahwa dia tidak mungkin
bisa menghafal Al Qur’an dan Sunnah. Karena ia sulit menghafal. Atau
bila ia bisa menghafal beberapa ayat, ia akan cepat lupa dalam waktu
singkat. Karena ingatannya lemah. Oleh karena itu, ia tidak perlu
menyusahkan diri untuk menghafal karena akan cepat lupa lagi.
Ini adalah tiou daya setan. Obatnya adalah hendaknya ia memperhatikan
keadaan para ulama Salaf terdahulu, yang menjadi oara penghafal di
dunia dan para ulama besar. Di antara mereka ada yang berhasil menghafal
puluhan ribu hadits Nabi dan permasalahan-permasalahan keagamaan.
Setiap orang hendaknya bertanya kepada dirinya sendiri, “bukankah mereka juga bisa lupa sebagaimana kita lupa?“. Jawabnya, “ya, mereka juga bisa lupa, karena mereka juga manusia sebagaimana manusia yang lain“.
Lantas mengapa mereka bisa menghafal hadits Nabi dan masalah-masalah
agama yang banyak itu? Apakah mereka sekedar mengulangnya satu kali atau
sepuluh kali? Tidak. Mereka tidak menghafal semua yang mereka hafal,
kecuali setelah mengulangnya ratusan kali sambil mengecek hafalannya di
setiap saat. Agar mereka tidak melupakan hafalannya. Walaupun demikian,
mereka tidak bisa selamat dari kekeliruan dan lupa.
Apabila demikian keadaan para ulama Salaf yang mulia, para penghafal
pilihan di dunia, bagaimana anda ingin menghafal suatu ilmu dengan hanya
sekedar mengulangnya sepuluh atau dua puluh kali?
Dengan demikian, permasalahan “cepat lupa, lambat hafalan dan sulit
menghafal” dapat diobati dengan sering mengulang-ulang apa yang ingin di
hafal, dan sering mengecek hafalan sampai menancap kuat dalam ingatan
dan hati. Hal ini bisa dilakukan oleh setiap orang yang menginginkannya.
Kenapa anda tidak termasuk orang yang ingin mendapatkannya?
[disalin dari buku “102 Kiat Agar Semangat Belajar Agama Membara” terjemahan dari kitab Kaifa Tatahammas fi Thalabil ‘Ilmi Asy Syar’i karya Abul Qa’qa’ Muhammad bin Shalih Alu Abdillah hal 87-91 ][muslim.or.id]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar